Anak iblis

 Jakarta, 8 May 2006.


    2006 Indonesia diawali dengan tragedi bencana menyayat hati. Pada bulan Mei, dunia sibuk sekali perihal aksi pawai, demonstrasi, wilayah yang terisolasi dan undang-undang yang direvisi. Oh, bulanku yang malang- lebih malang lagi nasibku.

    Masa kecilku habis, memaklumi mentalitas, eksistensi apa-apa dalam hidup, doktrinisasi, dan cikal bakal radikal. Aku berharap  hanya menjilat ice cream sembari menghempaskan ragaku di udara diiringi musik decit karat besi ayunan disore kala itu. Perosotannya juga lumayan.

    Namun, dunia terasa lebih baik ketika langkahku tidak menginjak debu Jakarta. Atmosfer Cirebon memeluk dengan hangat. Dekapan hangatnya membuatku overdosis. Pagi siang malam ku lukis indah dengan prestasi. Oh, aku lupa dosisnya harus persisten kian hari.

    Monster yang dibentuk keadaan telah berevolusi menjadi iblis, Iblis adalah lontaran favorit ayah untukku. Porsi akal manusia memang berbeda, Khalayak juga tak paham mengapa anak kecil ini tidak layak untuk dimanusiakan, bahkan dianggap tidak layak untuk diurus jenazahnya.

    Aku begitu dibedakan, dan itu membuatku spesial. Toh, aku sudah menjadi MAHAsiswi tahun ini, 2006 sudah bukan anak kecil lagi, ralat maksudku Anak Iblis. Bisa saja berevolusi menjadi lebih mengerikan. Tentu bukan aku yang mabuk. Namun, yang lempar pengaruh sembunyi akal. Hati-hati manusia mabuk dengan sifat iblisku.




Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.