Sumarah

Jatuh bangun sendiri



Sayup-sayup teriakan histeris hilang dari indra pendengar, rusuh tak terkendali mengelilingi sekitar.



Terlalu lelah untuk membuka mata. Ibu, apa sekarang waktu ku berpamit?



Selang waktu sinar mentari mengusik indra penglihatan, rasa peraba pun kembali hadir. Khalayak sekitar bersorak sorai lega menelisik tiap pemulihan. 


Raga yang berlumur pedih, kembali menancap gas menuju tujuan. 
Tiada rumah, membenci sepi. 


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.