Keping suara

Tabik alakadar keniscayaan dan puncak dari penyesalan.
Bangun meranjak ke tepi dengan potongan mimpi, tak terpejam, dan waras barangkali. 
Buku tumpahan kopi menjatuhkan debu jendela, dan kesepian barangkali. 


Aku sendiri dan mereka elastis, merangkak, tergantung dan melayang. 
Gemuruh  melengking sebelum hilang bersama telan ramuan, mereka mungkin aku.
Mereka lebih baik dari buih-buih kepercayaan, implikasi religius sertamerta; tanpa pretensi. 
Jangan lupakan ukiran lebam. 


Pesona, unik, karakteristik, tiap langkah mendebarkan.
Dibangun, dikembangkan, ditingkatkan, sial, tanpa dasar. 
Indah karena sukar dipahami. 
Kalau paham? Terkikis kian detik, Aku. 




Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.